EDUCATION FOREVER

Proses pembelajaran.

Behind The Scenes

Proses pembuatan film pendek

Pelatihan TIK

Bersama para narasumber dari Pustekom

Gunung Kerinci

Hamparan sawah di kaki Gunung Kerinci, Indahnya alam ku.

Crew dan Pemain

Film pendek pendidikan.

Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Oktober 21, 2017

PAKAIAN ADAT KERINCI JAMBI


Pakaian Adat daerah Kerinci bagi kaum perempuan yaitu :
  1. Kuluk. Kuluk terbuat dari kain merah dua buah yang diisi kapas dan disusun bertingkat. Masing-masing tingkat terdapat 25 cincin, sehingga semuannya menjadi 50 cincin. Bagian kanannya terdapat 27 buah kunci, agian depan dan belakang dihubungkan oleh kuluk hitam dengan motif geometris, yang salah satu ujungnya di berikan umbai panjang, dan ujung yang lainnya umbai pendek.
  2. Baju Kurung . Baju kurung panjang hingga batas lutut, lengan panjang, warna merah bersulam emas, ujung lengan dan bagian bawah bermotif pilin ganda tanpa krah.
  3. Tahhat (That). That atau kain sebagai bawahannya termbuat dari kain songket berwarna merah, motif geometris dan lupis bergelombang. Pada zaman dahulu terbuat dari kain tenun Kerinci, namun sekarang sudah jarang yang menggunakannya.
  4. Selempang. Selempang juga terbuat dari kain songket.
  5. Kalung, gelang dan anting terbuat dari kuningan.
  6. Hiasan Kepala terdapat umbai tembaga, bunga raut berjumlah 3 buah dan turai terbuat dari bahan pabung berukuran lebih kurang 40 cm.


PAKAIAN LAKI-LAKI


      Pakaian adat ini biasanya digunakan oleh pemangku adat, dan cara penggunaannyapun berbeda-beda. Selain itu pakaian ini juga digunakan oleh pengantin laki-laki masyarakat Kerinci.
  1. Baju dan celana. Baju yang digunakan baju teluk belango berwarna hitam yang dihiasi dengan sulaman benang emas di  dadanya.
  2. Selempan. Selempang berupa sarung yang di pasangkan di pinggang.
  3. Keris digunakan sebagai properti, yaitu sebagai lambang kesatrian.

     Adapun makna warna hitam dan kuning yang digunakan pada pakaian adat laki-laki masyarakat Kerinci adalah:
1. Hitam melambangkan rakyat banyak yang juga berarti kekuatan. Pemangku adat memiliki kekuatan karena rakyatnya.

2. Kuning, melambangkan kekuasaan yang berarti juga undang dan lembago.

KENDURI KOPI

Kota sungai penuh pada tanggal 21 oktober 2017 mengadakan kenduri kopi se provinsi jambi bertempat di lapangan merdeka kota sungai penuh.
Kegiatan ini dalam rangka menuju kota sungai penuh kota kopi pada tahun 2018.
Karena kita tahu banyak sekali produksi kopi di kota sungai penuh yang sudah dikenal dimana-mana.
Acara ini diikuti oleh banyak produsen kopi. Yang menghidangkan kopi andalan masing-masing, ada juga live music, pameran foto, pameran moge, ada juga doorprize.....

KENDURI KOPI KOTA SUNGAI PENUH 2017







Oktober 14, 2017

PEMBUATAN LEMANG

Proses pembuatan lemang 

Lemang dijejerkan panjang dekat api selama beberapa jam

Oktober 08, 2017

KENDURI KOPI SE PROVINSI JAMBI



Siapa yang tak kenal kopi kerinci, kopi yang sudah jadi buah bibir masyarakat luas. Selain teh kayu aro kopi kerinci juga jadi oleh-oleh yang khas dari daerah kerinci. Untuk itu daerah Sungai penuh Kerinci sudah terkenal dengan kopi nya, untuk itu akan di adakan satu event yang bernama Kenduri kopi, satu acara yang unik untuk para pecinta minuman kopi. Kenduri kopi tidak hanya untuk Sungai penuh dan Kerinci saja tapi Seprovinsi Jambi
Kenduri Kopi seprovinsi jambi bertujuan untuk meningkatkan ekonomi melalui kelestarian lingkungan. Yang akan dilaksanakan pada hari sabtu 21 Oktober 2017 yang bertempat dilapangan merdeka kota Sungai penuh. Akan ada berbagai jenis kegiatan seperti lomba tebak kopi, demo menyeduh kopi - menuju Sungai penuh kopi 2019- tester kopi gratis - stand kopi - dll.
Bagi para kopi lovers sayang sekali untuk melewatkan acara ini, safe the date ya..

Oktober 20, 2016

MELAYU KOPI DAUN DAN MINUM KAWO

Melayu kopi daun minum kawo adalah salah satu khas budaya kerinci yang hampir jarang kita ketemui, dikarenakan sudah banyaknya kopi bubuk yang di jual di pasaran dan bisa di dapatkan dengan mudah dan harga terjangkau. Tapi bukan Bearti melayu kopi daun dan minum kawo sudah hilang, kebiasaan ini masih bisa kita temui di beberapa desa yang ada di daerah kerinci seperti selempaung, jujun, keluru, talang kemuning.
Melayu kopi daun ini ada sejarah nya karena pada masa penjajahan biji kopi diambil oleh penjajah sehingga rakyat biasa tidak bisa menikmati biji kopi maka di ambil lah daun dari pohon kopi untuk dijadikan minuman. Disebut melayu karena daun kopi di layukan terlebih dahulu.
Melayu kopi daun dan minum kawo ini di buat dengan cara daun kopi di layu kan di atas asap kayu api hingga kering, setelah kering daun kopi dihancurkan dengan cara diremas dengan menggunakan tangan, kemudian direbus hingga berubah warna dan beraroma, kemudian diseduh dengan menggunakan saya atau batok kelapa. Inilah salah satu tradisi yang sudah berabad lamanya.

Oktober 03, 2016

RUMAH LARIK PANJANG, KERINCI

Rumah Larik Panjang, Kerinci, Jambi
Rumah larik panjang adalah rumah khas daerah Kerinci. Rumah para nenek moyang kita terdahulu, rumah ini mulai jarang di temui hanya pada lokasi tertentu saja, di karenakan kemajuan zaman banyak rumah larik panjang ini diganti dengan rumah modern yang banyak kita temui sekarang.

LEMANG KANTONG SEMAR MAKANAN KHAS LEMPUR, KERINCI, JAMBI

Lemang kantong semar adalah makanan khas desa Lempur lekuk 50 Tumbi, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Lemang yang dimasak di dalam kantung semar (Nephentes) ini memiliki rasa yang khas. makanan ini dibuat pada acara-acara tertentu saja seperti pada acara kenduri seko yang berlangsung 1 Oktober 2016.
Lemang ini dapat di makan langsung atau dengan menambahkan kuah srikayo.. hmmm yummy...

Oktober 02, 2016

KENDURI SKO KERINCI

Kemarin 1 Oktober 2016 desa Lempur Kabupaten Kerinci mengadakan acara adat yang bernama kenduri seko. kenduri seko merupakan singkatan dari kenduri pusako, kenduri ini merupakan kenduru adat yang dilakukan oleh desa-desa yang ada di kabupaten kerinci, dan setiap desa memiliki waktu yang berbeda-beda dalam melaksanakan kenduri sko. 
Rangkaian acara
Pukul 08.00 pagi pada hari yang telah ditetapkan, semua masyarakat berdatangan ke tempat acara dilaksanakan. Dengan antusias mereka ingin menyaksikan rangkaian upacara Kenduri Sko. Adapun rangkaian acaranya adalah sebagai berikut :
Pertunjukan Kesenian Daerah

1) Pencak Silat
Pencak Silat adalah seni bela diri dengan menggunakan dua mata pedang. Pencak silat ini dimainkan oleh sepasang anak jantan yang masing-masing memegang satu pedang. Mereka mempertontonkan keahlian bermain senjata tajam.
pencak silat


2) Tari Persembahan
Tari persembahan adalah tari untuk menyerahkan sekapur sirih kepada para petinggi-petinggi daerah yang hadir, Depati nan Bertujuh, Permanti nan Sepuluh, Mangku nan Baduo serta Ngabi Teh SantioBawo. Juga menyerahkan sekapur sirih kepada calon Depati, Ngabi, Permanti dan Mangku yang akan dinobatkan menjadi pemangku adat yang baru.

3) Tarian asyeak yaituTarian upacara yang pada klimaksnya dapat membuat penari kesurupan (trance)sehingga tubuh para penari tersebut tidak mempan oleh senjata tajam atau api,meniti mata keris atau pedang tanpa luka .biasanya tarian jenis ini terasa dominan mempengaruhi unsur-unsur magis,sehingga tidak bisa dipertunjukkan disembarang waktu.
3. Tari Massal
Tarian ini ditata sedemikian rupa khusus dipagelarkan untuk acara-acara helatan besar seperti Festival danau Kerinci dan juga Kenduri Sko. Tarian ini ditata dengan konfigurasi menggambarkan keadaan geografis Kerinci yang berbentuk kawah (landai). Gerakan yang ditarikan merupakan gerak-gerak tari tradisional Kerinci seperti tari Rangguk dan tari Iyo-yo.

4) Tari Rangguk
Tari Rangguk ini merupakan tarian spesifik Kerinci yang populer. Tarian ini ditarikan oleh beberapa gadis remaja sambil memukul rebana kecil. Tarian ini diiringi dengan nyanyian sambil mengangguk-anggukkan kepala seakan memberikan hormat. Tari Rangguk dilakukan pada acara-acara tertentu seperti menerima kedatangan Depati (tokoh adat Kerinci), tamu dan para pembesar dari luar daerah.

5) Penurunan Pusaka
Menurunkan pusaka dari Rumah  (dalam bahasa Kerinci Rumah Gedang disebut Umoh Deh)dibawa ke tempat acara upacara dilaksanakan. Oleh para sesepuh adat, pusaka itu lalu dibuka satu persatu, dibersihkan dan dipertontonkan kepada masyarakat sambil menceritakan asal usul atau sejarah pusaka tersebut.
penurunan pusaka

6. Penobatan para pemangku adat
1. Depati
Semua calon Depati dan Ngabi memakai pakaian adat berwarna hitam dan berbenang emas. Dipinggang sebelah kanan diselipkan sebilah keris. Untuk calon Permanti dan Mangku juga memakai pakaian adat dan sebuah tongkat yang terbuat dari kayu pacat.
Calon Depati baru dipanggil naik ke pentas secara bergantian lima orang. Sampai diatas pentas disebutkan namanya satu persatu seraya menjatuhkan Gelar Sko yang akan dijabatnya.

2. Ninik Mamak
Calon Permanti baru dipanggil naik ke pentas secara bergantian lima orang. Sampai diatas pentas disebutkan namanya satu persatu seraya menjatuhkan Gelar Sko yang akan dijabatnya.
3. Tengganai
Tradisi masyarakat kerinci dalam mengadakan kenduri sko,salah satunya terdapat pidato adat yang disebut deto talitai .Deto talitai ialah rangkaian pidato adat yang disampaikan dalam bahasa berirama ,dilakukan sewaktu upacara kenduri sko(adat)dan pengukuhan gelar kebasaran tertua adat atau kepala suku Depati ataupun Ninik Mamak.Pidato adat ini berbentuk prosa berirama dan didalamnya terdapat pepatah petitih .Setelah penyampaian pidato deto talitai oleh orang yang ditugaskan biasanya seseorang yang berjabatan Pemangku,Ninik Mamak ,Depati atau setingkat depati. Diikuti dengan maklumat sumpah karangsetio yang berisi peringatan keras pada orang yang menyandang gelar sko yang dikukuhkan pada hari ia dinobatkan menjadi ketua adat (depati).sumpah karang setio tersebut secara umum terdapat pada masing-masing lurah atau wilayah persekutuan adat kerinci.
Dibawah ini di kutip salah satu bunyi pepatah petitih penobatan dalam wilayah persekutuan adat Depati nan Berujuh Tanah Mendapo :
“Rapek-rapeklah anok janteang anok batino dalon dusun ineih dengea pasak-pasak.Adepun kamai ineih melakaukan buot dingon karang setio,di ateh baserau ngan baimbea anok janteang anok batino ,kepado umoh kapado tango ,kapado laheik kapado jajo,manganengohkan tando kbea sikou breh sratauh ,ndok jadi Depatai dan Permentai.Lah Bapapah babimboing kapado Depati nan Batujeuh,Pamangkau nan Baduea sarto Permentai nan Spulauh.Sudeah niang dipabuot,jadinyo Depati Nan Batujeuh ,batinonyo Pamangkau Nan Baduea,lahirnyo kamai Ngabi Teh Santio Baweo batinnyo Depati Nan Batujeuh ,sudeah diparbuot di ateh umoh patelai,sandinyo padek tanoh krajaan ,lubeuk mmeh pendannyo mmeh,sungei bremeh tanjoun bajure,di ateh tanoh ngan sabingkeh,dibawah pawon ngan sakakai ,bahimpoung piagea ngan tujeuh pucauk pado keri Pendok Anggo Lumpaing.Masauk pado karang stio ngan samangkauk.Sapo ngising kno miang ,sapo nguyang kno rbeah,sapo mancak mulih utang,sapo nindeih mulih garoih.Ideak bulieh nuhok kawang saireing,ideak bulieh nguntein kae dalon lipatan.Ideakbulieh bakuroak bakandon daleang,ideak bulieh pepak di luo unceing didalon.Kalou diparbuot ,padoi ditanang lalang tumbouh,kunyaet ditanang puteih isi,anak dipangkau jadi bateu.Ngadeak ka ilei dikutuk Tuhang,ngadeak ka mudeik dikutuk Tuhang,dikutuk qur’an 30 jeuh dimakon biso kawai .Ka dateh ideak bapucauk ,ka bawoh ideak baurak ,di tengoah di jarum kumbang.Dibageh ingak pado sagalo anok janteang anok batinoa,jiko awak ideak dilabeuhkan glea,dijadikan rekak dengon rekik,dijadikan rujuk dingon undou.Manggulung si lengan bajeu ,nyingkak kaki sirwang ,nambak bateu di balei,manikang kapalo karto ,ngato awak di luo adeak di luo pusko,ngandang saumo ideuk.”itoh salah!”
Didendo dingan breh saratauh kbou sikau.Kalou traso awak dilabeuhkan glo,dijadikan gleak dingan ilei,dijadikan tpauk dingan tarai,traso gedeang ndok malando,traso panjang ndok malilaik.
Mangupak mangupur balea,bagaligo buleak sakendok atai.Basutang di matao brajea di atai,babeneak ka mpou kakai.”itoh salah!”Lahe mulih utang batin dimakon karang stio nan samangkauk.Kinai lah diangauh breh sratauh kbea sikau,suko jadoi suko manjadoi,glo jateuh pusko tibeo…….”
Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
“Rapat-rapatlah anak jantan anak perempuan dalam dusun ini,dengar jelas-jelas.Adapun kami ini melakukan buat dengan karang setia,diatas berseru dan berimbau anak jantan anak perempuan ,kepada rumah kepada tanga ,kepada larik,kepada jajar mengenengahkan tanda kerbau seekor beras seratus hendak jadi Depati dan Permenti.Sudah berpapah berbimbing kepada Depati Nan Bertujuh,betinanya Pemangku Nan Berdua,lahirnya kami Ngabi Teh Santio Bawo,batinnya Depati Nan Bertujuh,sudah di perbuat di atas rumah das rumah pateli,sendinya padat tanah kerajaan,lubuk emas pandannya emas,sungai beremas tanjung berjurai,di atas tanah yang sebingkah,di bawah payung yang sekaki,berhimpun piagam yang tujuh pucuk kepada keris Penduk Anggo Lumping.
Masuk pada karang setia yang semangkuk .Siapa mengeseh kena miang,siapa menggoyang kena rebah,siapa berbuat salah,beroleh hutang,siapa menindih beroleh garis.Tidak boleh menohok kawan seiring,tidak boleh menggunting dalam lipatan.Tidak boleh berkurung berkandang dalam,tidak boleh pepat di luar runcing di dalam.Kalau di perbuat ,padi di tanam ilalang tumbuh ,kunyit di tanam putih isi ,anak dipangku jadi batu.
Menghadap ke hilir dikutuk Tuhan,menghadap ke mudik dikutuk Tuhan,di tengah di makan bisa kawi,di kutuk Qur’an 30 juz,ke atas tidak berpucuk,ke bawah tidak berurat,di tengah di jarum kumbang.
Di beri ingat kepada semua anak jantan anak betina,jika kita tidak di berikan gelar,di jadikan rekak dengan rekik,di jadikan rujuk denagn mundur.Menggulung si lengan baju,menyingkat kaki celana ,melemparkan batu di balai,menikam kepala kerta mengatakan kita di luar adat,di luar pusaka ,mengandang seumur hidup.”itu salah!”Di denda beras seratus kerbau seekor.
Kalau terasa kita berikan gelar,di jadikan gelak dengan ilir,di jadikan tepuk dengan tari,terasa besar hendak melanda,terasa panjang hendak melilit.Mengupak mengupur balai,berbuat sekehendak hati.Bersutan di mata ,beraja di hati,berbenak ke empu kaki.”Itu salah!”Lahir dapat hutang ,batin di makan karang setia nan semangkuk.Sekarang sudah di hangus beras seratus kerbau seekor,suka jadi suka menjadi,gelar jatuh pusaka kita……”
Setelah semua acara acara selesai semua pusaka yang telah dibersihkan diletakkan kembali di tempat adat yang telah disediakan yang bernama rumah gadang kerinci.

TARI KHAS KERINCI TARI MANDI KACO

Tari mandi kaco adalah salah satu tari kreasi baru dari tarian niti mahligai tari tradisional daerah kerinci yang sudah turun temurun, berbeda dengan tari niti mahligai yang pada umum nya dibawakan oleh penari yang telah berumur, tari mandi kaco di bawakan oleh penari yang masih muda.
Tari ini dinamakan tari mandi kaco karena dalam tarian ini terdapat suatu gerakan tarian dimana penari berjalan di atas kaca atau beling.
tari ini cukup meneganggkan penonton yang menyaksikan pertunjukan dimana penari dengan lincahnya menari-nari diatas pecahan kaca.
Sanggat bangga memiliki suatu warisan kesenian budaya yang amat mengagumkan.

September 14, 2016

LEMANG MAKANAN KHAS KERINCI SUNGAI PENUH

Lemang adalah makanan khas daerah Kerinci Sungai Penuh. Lemang biasa di buat untuk menyambut hari besar agama Islam atau acara adat seperti pada saat hari raya Idul Adha, Isra Miraj, Maulid Nabi Muhammad SAW, Khatam Alquran, Kenduri Seko (acara adat daerah Kerinci) atau pada saat bulan Ramadhan akan banyak yang membuat lemang untuk di jual belikan.
Lemang di buat dengan menggunakan beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu yang sudah di lapisi daun pisang dan di berikan santan. Lemang di masak dengan menggunakan api yang berasal dari kayu dan dibuat kan tiang di dekat api untuk menyandarkan lemang. Memasak lemang membutuhkan waktu yang cukup lama kisaran 2-3 jam, dan selama proses pembakaran lemang harus sering diputar-putar. Karena proses pembuatan yang cukup lama inilah yang membuat lemang hanya ditemui pada acara-acara tertentu saja.

September 13, 2016

TARI KHAS KERINCI TARI RANGGUK

Salah satu tari tradisional khas daerah Kerinci adalah tari rangguk, Menurut sejarahnya, masyarakat Kerinci telah mengenal Tari Rangguk sejak dulu. Di Jambi, tarian ini diyakini muncul atas ide dari seorang ulama dari Dusun Cupak, Kabupaten Kerinci. Konon, sekitar abad ke-19, ulama itu menunaikan ibadah haji. Ketika berada di tanah suci Mekkah, ulama itu menyempatkan untuk belajar ilmu agama dan kesenian tradisional dari Arab yakni menabuh rebana sambil menganggukkan kepala.
Setelah kembali ke kampung halamannya, ulama itu berdakwah menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Kerinci. Untuk menarik perhatian masyarakat, beliau berdakwah sambil memainkan alat musik rebana yang diikuti dengan gerakan menganggukkan kepala dan melantunkan pantun dan pujian kepada Allah.

Tari Rangguk banyak mengandung nilai estetika( keindahan) dan nilai spiritual yang bersumber ajaran Islam. Hal ini tercermin dalam gerakan-gerakan kepala (mengangguk-angguk), irama musik (tabuhan rebana), serta beberapa selingan pantun puji-pujian. Gerakan tari yang disajikan oleh para penari diambil dari beberapa gerakan seperti liukan tumbuhan-tumbuhan, gerak riang hewan, dan lenggak-lenggok manusia yang dikombinasikan menjadi satu. Dan tidak kalah penting dari pelaksanaan Tari Rangguk adalah nilai spiritual yang melekat sebagai ungkapan rasa syukur dan ketakwaan kepada Sang Penciptanya (Allah SWT).
Dalam perkembangannya, gerakan tari rangguk ini disesuaikan dengan suasana dan tempat tari tersebut dimainkan. Ketika tari dibawakan untuk hiburan, para pemainnya menabuh rebana dan mengangguk hanya sembari duduk melingkar. Tetapi jika tari dibawakan untuk menyambut tamu, para penari melakukan tari sembari berdiri (berbaris) dengan memukul rebana, sementara kepala mengangguk-angguk kepada tamu sebagai simbol ucapan selamat datang.

Selain sebagai hiburan dan untuk menyambut tamu, tari rangguk ini juga dibawakan pada pesta adat masyarakat Kerinci, seperti Keduri Sko (pesta pusaka) dan pemberian gelar luhah untuk pemimpin negeri. Keduri Sko (pesta pusaka) biasanya diadakan pada acara seperti pengangkatan atau pemberian gelar adat, seperti pemberian gelar Rio Depati, Mangku, Datuk, serta pimpinan suku.


September 09, 2016

TARI TRADISIONAL KERINCI NITI NAIK MAHLIGAI

TARI NITI NAIK MAHLIGAI



Tari khas Kerinci- Salah satu tari khas Kerinci provinsi Jambi adalah tari niti naik mahligai, tari ini dimainkan oleh penari wanita yang telah berumur. Atraksi tarian ini biasanya diperagakan di beberapa event daerah seperti pada acara Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci xv. Tari ini mengandung unsur magis karena pada saat tarian menggunakan media yang berbahaya, Atraksi tersebut diantaranya:1. Niti Gunung Kaco yaitu menari di atas pecahan kaca.2. Niti Gunung Telo yaitu berjalan di atas mangkok-mangkok keci dan berjalan di atas batang   pisang yang diatasnya diletakkan telur.3. Niti Gunung Tajam yaitu menari di atas bambu-bambu runcing dan paku yang telah di tata.4. Niti Gunung Pedam yaitu menari di atas ujung pedang yang sangat runcing.5. Niti Gunung daun yaitu menari di atas daun kelor.6. Niti Laut Api yaitu menari di dalam bara api yang sangat panas.Pada zaman dahulu tarian ini memiliki fungsi sebagai : (1) sarana komunikasi kepada roh nenek moyang; (2) sarana komunikasi kepada masyarakat; (3) sarana penyembuhan; (4) sarana pengungkapan rasa syukur; dan (5) sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat setempat khususnya antar penyandang gelar adat.Namun, seiring dengan kemajuan zaman upacara ini ditinggalkan oleh masyarakat Kerinci. Hal ini disebabkan karena faktor  ideologi, teknologi, letak geografis, sosial, ekonomi dan pendidikan masyarakat Kerinci yang berubah. Karena faktor-faktor tersebut maka, tari ini mengalami perubahan fungsi dan bentuk penyajiannya. Seperti yang kita ketahui juga bahwa pada hakekatnya karya seni itu harus berkembang sejalan dengan arus perubahan zaman.  Perubahan bentuk dan penyajian tari Niti Naik Mahligai di lakukan oleh masyarakat pendukung tari ini, mereka menata tari ini sedikit demi sedikit. Selanjutnya pada tahun 1999 bersama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci bidang kesenian menata kembali tari ini menjadi tari Niti Naik Mahligai yang berkembang saat ini.

September 08, 2016

SISTEM ADAT KERINCI



Adat merupakan gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang. 
Adat pada prinsipnya dekat sekali dengan agama. Seperti yang kita ketahui adat asli bangsa Indonesia telah dipengaruhi oleh agama Hindu, Budha dan selanjutnya agama Islam. Oleh karena itu, adat daerah Kerinci sangat erat hubungannya dengan agama. Seperti ungkapan adat mengatakan:     Adat bersendi syarak-syarak bersendi Kitabullah, Adat berbuwul sentak-syarak berbuwul mati. Maksudnya adat dapat saja berubah corak, tetapi syarak tidak boleh berubah. Fungsi adat adalah untuk pembinaan persatuan dan kesatuan masyarakat, karena adat istiadat memiliki seperangkat norma, kaidah, dan keyakinan social yang masih dihayati dan dipelihara oleh masyarakat.
Pemangku adat yaitu orang yang menduduki jabatan dalam kelembagaan adat. Pemangku adat merupakan orang yang dituakan di dalam masyarakat, pemangku adat juga sebagai pemimpin suatu keluarga besar. Adapun yang dimaksud dengan Pemagku adat di daerah Kerinci adalah mereka yang memegang gelar adat yang setingkat Depati Ninik Mamak (aplikasinya merupakan raja-raja kecil). 


  1. Orang yang dapat dipilih menjadi pemangku adat adalah:
  2. Orang cerdik pandai dan bijaksana.
  3. Orang kaya  yang budiman
  4. Orang yang berilmu pengetahuan.     
        Adapun sifat pemangku adat di ungkapkan dalam kata-kata adat di bawah ini:              Saiyo sakato, sarunding sainok
Serentak datang, serangkuh dayung
Saayun saribae tangan, salangkah dan sepijak
Kok mudik samo ka hulu, kok hilir samo ka laut
Kok berat samo dipikul, kok ringan samo di jinjing
Saciyok bak ayam, sedenting bak besai
Satu adat satu lumbago

Sifat Pemangku adat ialah “ Adil”, martabatnya 10 yaitu:
1)      Berilmu dan berakal
2)      Jernih air muka
3)      Banyak suka dan duka
4)      Berani dan pengasih
5)      Teguh penderian dan lapang dada
6)      Ingat dan waspada
7)      Yakin dan tawakal
8)      Mengenal watak, mengetahui, mengayomi,dan melayani hamba    rakyat
9)      Tidak menolak sembah yang bersinkalak
10)    Tahu yang hina dan mulia

Adat Kerinci memiliki beberapa gelar adat, yaitu: Depati, Datuk, Rio, Mangku, Patih, Manti Agung, Malano, dan lain-lain. Depati disebut golongan depati sedangkan  Datuk, Rio, Mangku, Patih, Manti Agung, Malano, dan lain-lain disebut golongan ninik mamak. Pada aturan hukum adat Kerinci, setiap pemangku adat memiliki tugas masing-masing. Adapun penjelasannya sebagai berikut.

1.   Depati. 
       Kata depati adalah kata memutus. Dialah yang memakan habis memegal putus dan membunuh mati. Artinya segala perkara yang sampai kepadanya dan diadilinya di rumah adat, maka keputusannya tidak dapat di ganggu gugat oleh siapapun.
Sko Depati atau setingkat depati, fungsinya sebagai gendang mula bersua tinggi Nampak jauh. Untuk menyandang gelar depati ada tiga ketentuan:
1) Menganguskan beras seratus, kerbau seekor, yaitu kenduri adat atau yang disebut dengan kenduri Sko. Pada kenduri ini memotong seekor kerbau dan memasak beras bilangan seratus gantang.
2)  Mengaguskan “mas samas”, yaitu memberi uang penaik sebagai  persyaratan untuk menggantikan Depati yang telah meninggal dunia.
3)   Dipilih oleh musyawarah ninik mamak.

Depati menjalankan semua hukum dalam negeri. Petitih adat Kerinci mengatakan: 
“ Depati ituh menghukum dingan undang-undang, membuju lalu, malintang patah. Lantak idak bulih guyah, cemin idak buleh kabo. Dicabut idak mati, diasak idak layu. Itulah kato adat dengan ampuh di alam Kincai”.

Artinya:
Depati itu memegang hokum dan undang-undang, membujur lalu, melintang patah. Lantak tidak boleh goyah, cermin tidak boleh kabur. Dicabut tidak mati, digeser tidak layu. Itulah kata adat yang ampuh di alam Kerinci.
Maksud ungkapan ini adalah depati memegang hukum dan undang-undang, semua peraturan yang dikeluarkan dan semua peraturan yang dikeluarkan dan semua hukuman yang dijatuhkan hendaknya sesuai dengan aturan adat yang telah ditentukan.

2.   Ninik Mamak

    Ninik mamak adalah orang yang dituakan dalam sebuah kelembu (suku). Dialah yang mengawasi dan menjadi nenek yang akan menasehati warga kelembunya.  Serta dialah yang menjadi mamak (paman) yang membimbing keponakannya. Ninik mamak menyandang gelar Sko dari  Ninik Mamak terdahulu, jadi gelar sko lah yang menyebabkan ninik mamak di dahulukan selangkah dari mamak-mamak yang lain.
Ninik mamak berhak untuk mengajun, mengarah, menyusun, menata anak keponakan.  Dalam ungkapan adat dikatakan:
“Sko Ninik mamak ialah menyusun, menyelesaikan yang kusut dan menjernihkan yang keruh. Jauh diulang dekat dikunjungi. Berkata dulu sepatah, berjalan dulu selangkah. Mengetahui larik yang berderet, lumbung yang berjejer, sawah yang berjenjang, kebunyang berbidang, menyusun lantai, memaku lantak. Menentukan batas dengan padang, pendek dengan panjang, dahan dengan ranting, gilir dengan ganti. Melihat orang masuk dan orang keluar, tamu datang melintang datang membujur, datang malam datang siang, air yang beriak daun yang bergoyang. Itulah hak dan kewajiban ninik mamak”.

  
Sumber
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kerinci. (2003). Adat dan Budaya Daerah Kerinci. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kerinci: Kerinci

September 06, 2016

FESTIVAL MASYARAKAT PEDULI DANAU KERINCI XV

FESTIVAL MASYARAKAT PEDULI DANAU KERINCI



Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci FMPDK Tahun 2016 ini sudah memasuki ke 15. FMPDK XV dilaksanakan pada tanggal 20 - 23 Agustus 2016, event ini akan dipusatkan di Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK) tahun 2016 ini sudah memasuki ke XV acara ini rutin dilaksanakan sejak tahun 2001 pada masa kepemimpinan Bapak H.Faauzi Siin yang saat itu menjabat sebagai Bupati Kabupaten Kerinci, dan pada saat itu Kerinci dan Kota Sungai Penuh masih satu wilayah kesatuan, dimana Sungai Penuh menjadi ibu kota dari Kabupaten Kerinci. FMPDK XV dilaksanakan pada tanggal 20 - 23 Agustus 2016, event ini akan dipusatkan diDermaga Danau Kerinci Sanggaran Agung, untuk mencapai Kabupaten Kerinci dapat ditempuh dengan jalur darat dari kota jambi dengan jarak tempuh lebih kurang 8-9 jam atau dari kota padang dengan jarak tempuh lebih kurang 6 jam, untuk mempersingkat waktu juga bisa melalui jalur udara menuju bandara perintis Depati Parbo dari bandara Sultan Thaha Jambi atau Bandara Internasional Minang Kabau kota padang dengan jarak tempuh hanya 45 menit.

Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci sudah menjadi ikon budaya untuk daerah Kerinci yang bertujuan untuk menarik minat wisatawan datang ke kabupaten KerinciKonsep acara pada FMPDK 2016 akan sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu tampilan/atraksi dan kegiatan kepariwisataan akan lebih banyak disajikan dibandingkan dengan acara seremonial, adapun beberapa isian acara event FMPDK 2016 antara lain :
  1. Tampilan tari dan kesenian tradisional kerinci
  2. Atraksi menyelaman secara tradisional tanpa menggunakan alat bantu penyelaman
  3. Kenduri Sko terpusat/gabungan dari beberapa desa (tentative)
  4. Sosialisasi Sapta Pesona dan Sadar Wisata
  5. Lomba perahu hias
  6. Lomba Fotography
  7. dll                                                                                                                             


     pelaksanaan FMPDK xv dibuka langsung oleh Bapak Gubernur H. Zumi Zola  di dampingi Bapak Bupati Kerinci Adirozal. Semua pihak termasuk saya berharap FMPDK XV dapat memberikan warna bagi Pesona Indonesia sekaligus dampak positif bagi kemajuan pariwisata Provinsi Jambi dan khususnya masyarakat Kabupaten Kerinci.                                  
                

September 02, 2016

KERINCI

SEJARAH KABUPATEN KERINCI
Kerinci-Satu kelompok masyarakat di dalam satu kesatuan dusun dipimpin oleh kepala dusun, yang juga berfungsi sebagai Kepala Adat atau Tetua Adat. Adat istiadat masyarakat dusun dibina oleh para pemimpin yang jabatannya yaitu Depati dan Ninik Mamak. Dibawah Depati ada Permenti (Rio, Datuk dan Pemangku) merupakan gelar adat yang mempunyai kekuatan dalam segala masalah kehidupan masyarakat adat.Wilayah Depati Ninik Mamak disebut ‘ajun arah’. Struktur pemerintahan Kedepatian: 1. Depati Empat Pemangku Lima Delapan Helai Kain Alam Kerinci, berpusat di Rawang; 2. Depati Empat Tiga Helai Kain, berpusat di Pulau Sangkar; 3. Pegawe Rajo Pegawe Jenang Suluh Bindang Alam Kerinci, berpusat di Sungai Penuh; 4. Siliring Panjang atau Kelambu Rajo, berpusat di Lolo; 5. Tigo Luhah Tanah Sekudung, Siulak; 6. Lekuk Limo Puluh Tumbi, bepusat di Lempur;
Kekuatan Depati menurut adat dikisahkan memenggal putus, memakan habis, membunuh mati. Depati mempunyai hak yang tertinggi untuk memutuskan suatu perkara. Dalam dusun ada 4 pilar yang disebut golongan 4 jenis, yaitu golongan adat, ulama, cendekiawan dan pemuda. Keempat pilar ini merupakan pemimpin formal sebelum belanda masuk Kerinci 1903. Sesudah tahun 1903, golongan 4 jenis berubah menjadi informal leader. Pemerintahan dusun(pemerintahan Depati) tidak bersifat otokrasi. Segala maslah dusun, anak kemenakan selalu diselesaikan dengan musyawarah mufakat. Ninik Mamak mempunyai kekuatan menyelesaikan masalah di dalam kalbunya masing-masing. Dusun terdiri dari beberapa luhah. Luhah terdiri dari beberapa perut dan perut terdiri dari beberapa pintu, didalam pintu ada lagi sikat-sikat. Bentuk pemerintahan Kerinci sebelum kedatangan Belanda dengan system demokrasi asli, merupakan system otonomi murni. Eksekutif adalah Depati dan Ninik Mamak. Legislatif adalah Orang tuo Cerdik Pandai sebagai penasihat pemerintahan. Depati juga mempunyai kekuasaan menghukum dan mendenda diatur dengan adat yang berlaku dengan demikian dwi fungsi Depati ini adalah sebagai Yudikatif dusun. Ini pun berlaku sampai sekarang untuk pemerintah desa, juga pada Zaman penjajahan Belanda dan Jepang dipergunakan untuk kepentingan memperkuat penjajahannya di Kerinci.
FILM PENDEK PENDIDIKAN

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA...SEMOGA BERMANFAAT...